Sebuah nama yang tak pernah lekang oleh waktu, terus mengikuti bayang-bayang kaum wanita indonesia, dan tak akan pernah lapuk di jiwa setiap wanita Indonesia. Itulah Raden Adjeng Kartini. Sebuah nama yang menjadi perumpamaan bagi kaum wanita Indonesia.

Sebelum kita membuka tabir nyata dari realita kehidupan kartini-kartini zaman sekarang, dimana masih ada ketabuan sebuah fakta dari kartini-kartini 2009 dan jika ada sebuah tanda tanya besar untuk pahlawan wanita kita yang populer ini maka itu adalah “Jasa apakah yang diberikan oleh ibu kita kartini bagi wanita Indonesia?” Sebelum kita mengupas tuntas itu semua, marilah kita menengok kembali ke masa lampau bagaimanakah sejarah seorang Ibu kita Kartini.

Pahlawan wanita ini lahir di Jepara, Jawa tengah pada tanggal 21 april 1879. Raden Adjeng Kartini atau lebih tepatnya Raden Ayu Kartini lahir dikalangan priyayi atau kelas bangasawan jawa, yang merupakan putri dari bupati Japara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan ibunya yang bernama M.A Ngasirah seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Karena Kartini lahir dikalangan darah biru, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europe Lagere School). Disekolah itu kartini banyak belajar tentang bahasa Belanda, sampai usianya 12 tahun ia harus tinggal dirumah karena sudah bisa dipingit. Karena proses pingitan merupakan proses awal menuju ke altar pelaminan, maka pada tanggal 12 november 1903 wanita yang merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri ini disuruh oleh orang tuanya menikah dengan bupati rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah mempunyai 3 orang istri. Dengan adanya pernikahan tersebut maka kandaslah cita-cita Kartini untuk bersekolah di Belanda ataupun untuk masuk ke sekolah kedokteran di Betawi. Meskipun begitu karena kartini bisa berbahasa Belanda, maka dirumah ia mulai belajar sendiri dan banyak menulis surat kepada teman-temanya di Belanda. Salah satunya adalah Nyonya Rosa Abendanon. Disamping itu dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa Kartini sangat tertarik pada kemajuan berfikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial perempuan pribumi saat itu berada pada status sosial yang rendah. Pemikiran Kartini tentang perempuan eropa yang lebih maju dibandingkan dengan kondisi dan status social wanita pribumi yang masih rendah banyak tercatatkan disurat-surat Kartini yang dikirimkannya pada teman-temannya di Belanda.

Ternyata setelah ia menikah, suami kartini sangat mengerti akan keinginan kartini. Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Anak pertama dan sekaligus terakhir kartini adalah R.M Soesali yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Selang empat hari setelah anaknya lahir, yaitu tanggal 17 September 1904 Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di desa Bulu, kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihan Kartini, banyak sekolah–sekolah wanita yang bermunculan diberbagai daerah seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Sekolah-sekolah di daerah-daerah tersebut diberi nama “Sekolah Kartini”

Itulah sejarah seorang R.A kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Jasa R.A Kartini bagi kaum kartini Indonesia jika kita lihat dari cuplikan sejarah diatas, memang seharusnya kita bisa mengatakan singkat saja bahwa R.A Kartini berjasa dalam membangun sekolah bagi wanita Indonesia yang saat itu taraf hidupnya masih rendah. Namun dibalik itu semua ternyata yang paling besar dari jasa seorang R.A Kartini adalah tulisan pada isi surat-suratnya yang dikirim untuk teman-temannya dibelanda, karena mengapa? Karena itulah tolak ukur bagi seorang R.A Kartini yang membedakan dari pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, dimana ia merupakan sosok figur wanita yang gemar menulis sehingga dengan tulisan-tulisannya tersebut kita tahu pemikiran apa sajakah dari seorang pahlawan wanita yang memikirkan rakyatnya. Pernah di suratnya ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah. Nah, pemikiran itulah yang digunakan oleh R.A Kartini untuk menyelamatkan keterpurukan kaum kartini Indonesia yaitu salah –satunya dengan ia mendirikan sekolah wanita.

Sekarang kita lihat pada realita di tahun 2009 ini. Ternyata jerih payah perjuangan seorang Raden Adjeng Kartini tidak seperti peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya”saja. Faktanya dapat kita lihat dari sudah banyaknya sekolah-sekolah yang didirikan yang dimana banyak mendidik kaum kartini Indonesia sehingga dapat mencetak output kartini-kartini yang lebih maju daripada zaman R.A Kartini lahir dahulu, dimana masih banyak kartini-kartini indonesia yang tidak bisa bebas duduk dibangku sekolah, sehingga sampai tahun ini sebagian besar kartini Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan, bisa sukses dalam menunjukan eksistensinya didalam segala hal khususnya dalam bidang pekerjaan, misalnya sekarang banyak kita jumpai kartini indonesia yang sudah menitih karir di segala bidang pekerjaan yang tidak kalah jauh beratnya dengan pekerjaan seorang kaum laki-laki seperti tentara, sopir, polisi, artis bahkan menjadi orang nomor satu di indonesiapun kaum kartini pernah ikut andil yaitu menjadi seorang presiden. Percayakan anda sekarang! Itu semua tidak lepas dari jerih payah seorang Raden Adjeng Kartini.

Namun dari segudang perjuangan R.A kartini untuk membela emansipasi wanita. Ternyata masih ada perjuangan kartini yang belum bisa dirasakan oleh kartini-kartini Indonesia, bahkan ada dari mereka yang malah melakukan hal-hal yang menurut R.A kartini disuratnya merupakan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh kartini-kartini Indonesia karena dapat merusak moral mereka dan jika dipikir dengan kepala dingin, perbuatan seperti itu malah tidak menghargai jasa R.A Kartini. Perbuatan itu seperti melakukan pacaran di usia pelajar, berbudaya merokok, bahkan sampai berfoto senonoh yang dipertontonkan pada khalayak umum. Perbuatan itu semua tidak memandang etika yang dimiliki oleh kaum wanita.

Disamping itu pula jika kita telusuri dengan mendalam ternyata masih ada kartini-kartini muda yang nantinya akan menjadi kartini dewasa Indonesia yang masih belum tersentuh oleh perjuangan R.A Kartini dalam memajukan kaumnya.